Hasyim Muzadi: Dari Balsem hingga Porto Alegre

607
Kiai Hasyim Muzadi dan Joko Widodo (2014)

Kamis pagi (16/3) Allah SWT telah memanggil KH Hasyim Muzadi setelah salah satu dari sedikit putra-putri terbaik Nahdlatul Ulama ini mengalami pergumulan dengan penyakit yang dideritanya. Sangat mungkin Kiai Hasyim kelelahan mengingat tingginya mobilitas bertemu umat. Meski tidak lagi menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Nahdliyin mana yang tidak kenal adik kandung Kiai Muchit Muzadi ini?

Mungkin itu disebabkan karena Kiai Hasyim punya gaya khas saat berkomunikasi dengan publik. Saya menyebutnya NU-style: pelan, datar, tidak meledak-ledak, namun pilihan diksi dan struktur kalimatnya selalu pas dan enak didengar. Dan, ini yang terpenting, ia selalu tahu bagaimana menyelipkan humor-humor segar.

Barangkali, dengan cara inilah ia berhasil menempatkan dirinya dalam memori setiap nahdliyyin. Saya selalu bilang, “Pokoknya, kalau yang menjelaskan Kiai Hasyim, semua akan paham, muncul solusi dan suasananya akan mencair.”

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), saat menjadi salah satu narasumber sebuah diskusi tahun 1993 di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, bersama Nurcholish Madjid, M. Sobary, M. Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, dan Emha Ainun Najib sebagai moderatornya, pernah menceritakan bagaimana gaya Kiai Hasyim menyelesaikan “keributan ritual” antara PMII-HMI dalam urusan rakaat salat tarawih.

Saat itu dua organisasi besar Islam itu mendatangi Kiai Hasyim. “Yai, yang benar itu 8 atau 20 rakaat?” tanya mereka. Kiai Hasyim menjawab dengan santainya, “Tarawih 8 rakaat, boleh. Dua puluh rakaat boleh. Nggak tarawih pun juga boleh.”

Kiai Hasyim pula yang mempopulerkan idiom yang cukup populer di kalangan aktivis Nahdliyyin, “Kalau bukan salah paham, berarti pahamnya yang salah, atau jangan-jangan nggak paham.”

Dengan keluwesannya berkomunikasi dengan publik, Kiai Hasyim mampu menyuarakan gagasan tentang apa yang menurutnya baik. Misalnya, terkait komitmen menampilkan wajah moderat Islam di Indonesia. Salah satu capaian yang, menurut saya, membanggakan adalah saat ia diminta berbicara di hadapan pemimpin gereja sedunia dalam World Council of Churches di Porto Alegre, Brasil, di tahun 2016.

Saat itu, ia meyakinkan audiens terdapat 6 faktor merebaknya kekerasan berbasis agama di beberapa belahan dunia. Yakni, eksklusifisme ajaran, kesalahpahaman memaknai agama, kemiskinan dan ketidakpedulian, persoalan komunikasi antaragama, relasi negara-agama, dan ketidakadilan kedaulatan, politik dan ekonomi.

“I feel that there are several things that can be initiated by religious communities, individually or in collaboration, (one of them is).. Convincing the small exclusive groups to be more open to interact with other traditions and environments,” katanya di podium.

Di samping kukuh menjaga moderatisme NU, Kiai Hasyim juga menunjukkan rasa sayangnya terhadap organisasi ini dengan cara memastikan NU tidak berpolitik praktis, dalam arti terbelit oleh partai politik tertentu. Cara pandang ini saya gunakan untuk meneropong kiprahnya (bersama KH Salahuddin Wahid) saat Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur, dua tahun lalu. Dua tokoh tersebut (dengan dukungan 29 pengurus wilayah) menyerukan penolakan hasil muktamar paling gaduh dalam 20 tahun terakhir ini.

“Saya tegaskan bahwa PBNU sekarang vakum, organisasinya ada tapi pemimpinnya tidak ada sampai ada muktamar lagi,” tegas Kiai Hasyim kepada detikcom, Kamis (6/8/2015).

Dalam perjalanannya, faksi Tebuireng bisa dikatakan mengalami kekalahan secara politik. Hal ini ditandai dengan tetap berjalannya kepengurusan duet Kiai Ma’ruf Amin-Kang Said Aqil Siradj memimpin PBNU.

Apakah ini berarti karier Kiai Hasyim habis? Tidak. Ia tetap memanen apa yang ia telah tanam selama ini. Bersama beberapa tokoh, Kiai Hasyim diminta Presiden Joko Widodo masuk dalam jajaran Dewan Pertimbangan Presiden. Presiden asal Solo ini memang nampak punya hubungan khusus  dengan Kiai Hasyim. Sebab, hanya dia satu-satunya Presiden RI yang pernah mengoleskam balsem ke kaki Kiai Hasyim.

Selamat jalan, Kiai Hasyim. Irji’ii ilaa raadhiyatan mardliyyah. Fadkhulii fi ‘ibadii wadkhulii jannatii.

Kami akan meneruskan perjuanganmu.

Komentar anda