Divide et Impera: Muslim vs Muslim di Pilkada Jakarta

567
Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kiri) menyampaikan visi dan misinya disaksikan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kedua kanan) dan Sandiaga Uno (kanan) saat Debat Publik Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (12/4). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Aspek paling runyam dalam pilkada di Jakarta adalah Islam. Agama yang diyakini penganutnya membawa rahmat bagi semesta ini digunakan para simpatisan Muslim untuk menyerang pendukung Muslim lainnya. Serang menyerang antar-muslim dengan menggunakan ayat Qur’an plus hadits Nabi ini dilakukan melampaui batas (ghuluw), sehingga melanggar prinsip-prinsip ajaran Islam sendiri.

Ajaran Islam yang bersifat multitafsir harus diakui memberi peluang bagi tumbuhnya sikap-sikap ghuluw yang termanifestasikan dalam ucapan-ucapan yang mengandung kebencian, tuduhan-tuduhan keji (fahsya’), tindak kekerasan, dan perbuatan-perbuatan ekstrem lainnya.

“Perang” Muslim melawan Muslim dalam Pilkada Jakarta yang sesungguhnya bersifat duniawi ini, dengan motif utamanya memperebutkan kekuasaan, bukan hanya memecah persudaraan (ukhuwwah) tetapi juga telah memunculkan semacam kesimpulan hukum. Yakni, Muslim yang mendukung atau memilih calon gubernur tertentu masuk dalam golongan orang-orang munafik (munafiqun).

Tuduhan dari Muslim terhadap Muslim lainnya sebagai munafiqun ini tidak hanya subur di media sosial, tetapi juga marak dalam khutbah-khutbah Jum’at dan berbagai pengajian. Padahal, Nabi Muhammad sendiri tidak pernah mencap seorang Muslim munafik.

Di Madinah, dikenal seorang tokoh berpengaruh bernama Abdullah bin Ubay. Ucapan-ucapan dan perbuatan pemuka suku Khazraj ini sering dinilai merugikan kaum Muslim. Hampir setiap fitnah yang berkembang waktu itu melibatkan namanya. Termasuk dalam berita hoax (haditsul ifki) yang menimpa istri Nabi, Aisyah R. A., yang dituduh selingkuh.

Meski begitu, ketika Abdullah bin Ubay sakit, Rasulullah menyempatkan diri untuk membesuknya. Bagaimanapun juga, Abdullah bin Ubay masih menunjukkan dirinya sebagai seorang Muslim.

Oleh karena itu pula, ketika putra Abdullah bin Ubay, yang juga bernama Abdullah, datang menemui Nabi dan meminta salah satu kain Rasulullah untuk dijadikan kafan bagi ayahnya, Rasulullah mengabulkannya. Kemudian, ketika Abdullah juga meminta Rasulullah untuk menyalatinya, beliau pun berkenan.

Waktu itu, Umar bin Khaththab sempat menarik baju Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, Anda akan menyalatinya? Bukankah Allah melarangmu untuk menyalatinya?”

Rasulullah menjawab (QS at-Taubah:80), “Sesungguhnya Allah SWT memberikan kepadaku dua pilihan: kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka. Meskipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. Dan saya akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali.”

Umar berkata, “Sesungguhnya dia itu orang munafik.”

Setelah Rasulullah menyalati jenazah Abdullah bin Ubay, barulah turun ayat (QS. At-Taubah:84), “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangi (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik.”

Itulah gambaran orang munafik, yang bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak mengetahuinya kecuali Allah yang memberitahunya. Yakni orang yang berpura-pura mengikuti ajaran agama Islam, namun sebenarnya hati mereka memungkirinya. Mereka tidak beriman namun berpura-pura beriman.

Abdullah bin Ubay merupakan representasi dari perilaku kemunafikan (nifaq) atau hipokrisi yang berkaitan dengan akidah, di mana hanya Allah belaka yang mengetahui apakah seseorang itu munafik atau tidak. Ini pula yang disebut nifaq besar, yang dapat mengeluarkan seseorang dari keislamannya dan menggugurkan seluruh amalnya.

Rasulullah menyalati Abdullah bin Ubay ketika itu mengacu kepada pengakuan Abdullah bin Ubay bahwa ia seorang Muslim. Dan Islam mengajarkan ummatnya untuk memperlakukan manusia sesuai dengan kondisi yang diperlihatkan, sedangkan urusan hati dan batinnya adalah kewenangan Allah SWT.

Lalu, bagaimana dengan hadits Nabi yang menyatakan tanda-tanda orang munafik? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah bersabda, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu: jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berkhianat.” Inilah jenis hipokrisi atau nifaq kecil, yakni perbedaan antara lahir dan batin yang tidak bersangkut paut dengan akidah.

Jenis hipokrisi yang satu ini bisa menimpa siapa saja, termasuk setiap orang yang beriman. Karena itu, Anda boleh saja bertanya, “Siapa di antara kita yang sama sekali bebas dari dari satu dua butir hipokrisi sebagaimana ditengarai oleh Nabi?” Dengan kata lain, tanda-tanda hipokrisi yang dikemukakan Nabi tersebut merupakan bagian dari kelemahan manusiawi.

Nabi bersabda, “Sudah diturunkan hipokrisi kepada satu kaum yang lebih baik dari kamu.” Justru karena itu kita bermohon kepada Allah, dalam satu doa yang diajarkan oleh Nabi, “Allahumma inni a’udzu bika minasy syiqaaqi wan-nifaaqi wa suu-il akhlaaq.” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perpecahan, dari sikap hipokrit dan akhlak yang buruk). (Hadits riwayat Abu Daud dan Nasa’i).

Agaknya jenis munafik model Abdullah bin Ubay-lah yang dituduhkan kepada sebagian kaum Muslim penduduk Jakarta pada musim pilkada ini. Karena itu, jika di antara mereka ada yang meninggal, mereka ditolak untuk disalati. Jadi, bukan hipokrisi jenis kedua sebagaimana disinyalir Nabi, yang bisa menempel kepada siapa saja, termasuk para pendukung Ahok maupun pendukung Anies. Wallahu a’lam.

Komentar anda