Diskursus Transgender dalam Kitab Suci Kristiani

1189

Caitlyn Jenner berpidato dalam acara Excellence in Sports Performance Yearly Awards 2015 sebagai penerima Arthur Ashe Courage Award. Penghargaan ini diadopsi dari kisah atlet tenis Afro-Amerika, Arthur Ashe, yang meninggal akibat penyakit AIDS pada tahun 1993. [Sumber: www.slate.com]
31 Maret adalah International Transgender Day of Visibility, yaitu perayaan untuk keterlihatan bagi teman-teman transgender di seluruh dunia. Bicara soal transgender, memang begitu pelik, rumit, dan dinamis. Tidak heran, mereka hanya menjadi objek eksploitasi dalam industri kapitalisme modern, salah satunya sebagai bagian dari komoditas hiburan.

 

Di dunia komedi, kita mengenal almarhum Olga Syahputra yang femininitasnya kerap dijadikan banyolan. Sementara di bidang seks komersial, jutaan transgender dianggap sebagai ‘pekerja kelas dua’ yang tentu dimarjinalkan, diberikan harga paling murah, dan seringkali diperlakukan tidak manusiawi.

Salah seorang teman pejuang hak-hak lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) mengatakan pada saya, “ada laki-laki yang ‘terjebak’ di dalam tubuh perempuan. Bisa sebaliknya, seorang perempuan yang ‘terjebak’ di dalam tubuh laki-laki.” Berkaca pada realita, kita harus mengakui bahwa mereka ada dan hidup di sekitar kita. Identitas gender memang beragam dan penuh dengan keunikan.

Stigma Gelap kepada Eunuchs

Stigma negatif masyarakat modern telah membalut identitas eunuch (orang kasim) sejak lama, nyaris di semua wilayah di dunia. Penyebutan eunuch tentu di zaman sekarang ditujukan kepada teman-teman LGBT. Apa yang lain dari heteroseksual dipandang abnormal, tidak layak, dan sakit. Kalau dalam definisi umum, eunuch adalah orang yang mengebiri penisnya. Ketika tidak memiliki penis, seorang laki-laki disebut eunuch.

Mengapa stigma gelap ditujukan kepada mereka? Karena penis yang menjadi organ vital laki-laki adalah organ yang bisa menjadi fungsi reproduksi di dalam relasi laki-laki dan perempuan. Ketika seseorang disebut eunuch, ‘kejantanannya’ sudah hilang. Jati dirinya lenyap. Identitas sebagai laki-laki sudah tidak dimilikinya. Peran dan status sosialnya sebagai laki-laki seketika dinihilkan, ditelan sistem dan budaya patriarki.

Eunuch adalah “a much more enlightened definition would perhaps be an inability to function in the male gender role.” (Reverend David Miller, 2002:2-5).

Ada fungsi yang tidak lagi bisa dipenuhi seorang eunuch dalam peran gender laki-laki merujuk paradigma arus utama. Di sinilah muncul persoalan, karena diskriminasi gender kepalang diwajarkan. Padahal, eunuch ada banyak sekali di dunia, tapi mereka dianggap tidak ada dan tidak diperhitungkan sebagai subjek sosial-politik yang sah.

Saya menemukan beberapa catatan menarik mengenai eunuch, salah satunya tentang kelompok transgender di Italia yang mengebiri penis mereka. Orang-orang yang melakukan kebiri itu disebut castrato.

Di tengah kehidupan masyarakat Italia, castrato begitu terkenal dan dipandang hormat karena talentanya di bidang tarik suara, terutama di masa perempuan tidak diijinkan bernyanyi (Anderson Mary, 2001:21).

Anderson Mary mencatatkan cerita lainnya di Afghanistan, saat di tahun 1971 ada sejumlah laki-laki muda yang dikebiri dan diperjual-belikan sebagai pemuas hasrat seks.

Sementara di India, ada komunitas yang bernama Hijras (castrated males), yang sampai hari ini masih eksis. Mereka adalah komunitas yang terdiri atas para eunuch sebagai anggotanya dan menjalankan bisnis prostitusi (Nanda Serena, 1990:54).

Alkitab dan Transgender

Di dalam Matius 19:12 dituliskan, “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga.” Catatan biblikal tersebut merupakan satu narasi tekstual yang secara jelas menunjukkan kompleksitas dunia gender di luar heteroseksual.

Di dalam II Raja-raja 20:18 dituliskan, “Dan dari keturunanmu yang akan kau peroleh, akan diambil orang untuk menjadi sida-sida di istana raja Babel.” Di tempat lainnya, yaitu Yeremia 39:7, ada tertulis, “Tetapi ketika didengar Ebed-Melekh, orang Etiopia itu–ia seorang sida-sida yang tinggal di istana raja bahwa Yeremia telah dimasukkan ke dalam perigi, pada waktu itu raja sedang duduk di pintu gerbang Benyamin.”

Alkitab menyebut transgender dengan kata “sida-sida” yang tidak lain dan tidak bukan adalah orang kasim.

Sida-sida kembali muncul di kitab lainnya, yaitu Ester 6:14, sebagaimana tertulis, “Selagi mereka itu bercakap-cakap dengan dia, datanglah sida-sida raja, lalu mengantarkan Haman dengan segera ke perjamuan yang diadakan oleh Ester.”

Tidak hanya di dalam Alkitab, sejarah masyarakat kuno juga mencatatkan banyak narasi menyoal eunuch yang penting, mulai dari negara Cina, Persia, India, Arab, Turki, Amerika utara, Yunani, dan Romawi.

Eunuch di dalam teks-teks klasik biasanya mencakup transvestites (“orang banci”), transeksual, homoseksual, dan hermafrodit (berkelamin ganda).

Narasi Alkitab memperlihatkan transgender sebagai seorang pelayan raja dan kategori yang disandangnya adalah kaum bangsawan. Kelompok elite di dalam kerajaan.

Memang mereka tidak mampu untuk menjadi agen prokreasi (menghasilkan keturunan), tetapi loyalitas mereka kepada kerajaan sungguh berarti. Kedekatannya dengan raja membawa mereka berada di lingkaran kekuasaan, menemani raja, dan menjadi orang kepercayaan raja. Biasanya, seorang raja (tuan) akan memberikan perlindungan kepadanya.

Hal ini menjelaskan bagaimana relasi kuasa memberikan keuntungan kepada para eunuch dalam konteks dinamika percaturan politik kerajaan.

Selain penguasa, banyak pula perempuan-perempuan yang mencari eunuch untuk memberikan kenikmatan seksual.

Perempuan yang suaminya bekerja sebagai prajurit pergi mencari eunuch untuk memuaskan hasrat seksualnya. Tampak bahwa mereka sama sekali tidak menghindari aktivitas seksual dan mensupresi perasaan seksual.

Apabila kita menilik kembali Matius 19:12 di bagian “… ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga.” Maka, dapat kita lihat bahwa para eunuch ini tidak hanya menjadi penasihat raja secara politik, tetapi juga menjadi penasihat spiritual.

Seorang teolog Hindu bernama Serena Nanda mengatakan, “Hinduism however not only accommodates such ambiguities, but also views them as meaningful and even powerful” (Nanda Serena, 1990:55).

Sanksi tegas bisa saja ditujukan kepada para eunuch yang melakukan praktik sesembahan atau “prostitusi dewa-dewi” (pelacuran bakti). Bahkan pemimpin agama saat itu akan bertindak tegas dan menjatuhkan hukuman atas perbuatan yang sewenang-wenang (pleasure of the flesh).

Bagi para eunuch yang setia di dalam peribadatan, mereka memegang beberapa prinsip, yaitu berpuasa seks (abstinence), menjaga kemurnian (chastity), dan hidup menyangkal diri (self denial). “Therefore castration became a way to attain this more holy states“(Nanda Serena, 1990:56). Pengebirian menjadi jalan pemurnian dan pengudusan diri.

Bahkan tidak hanya laki-laki saja yang dikebiri, tetapi pada zaman itu ada juga perempuan yang melakukan kebiri (ovariotommy) dan memindahkan klitoris. Ini adalah tindakan yang biasa dilakukan female eunuch supaya tidak menstruasi.

Komunitas Hijras India juga mengebiri penis mereka dengan tujuan untuk pemurnian jalan ketaatan kepada dewa-dewi (obedience), yakni supaya tidak ternodai oleh seks, menjadi suci dan kudus, serta dapat menjadi perantara dewa-dewi.

Kembali ke diskursus transgender dalam Alkitab. Ada banyak referensi eunuch  di dalam Alkitab, termasuk Yeremia 41:16, II Raja-raja 20:18, Yesaya 39:7, Yeremia 38:7, dan Daniel 1:3. Ayat-ayat ini memperlihatkan peran eunuch yang ditempatkan dalam posisi sebagai manusia yang utuh, bahkan terhormat.

Di dalam Yesaya 56:3-5 ada tertulis, “Orang-orang kebiri yang memelihara hari-hari Sabat-Ku dan yang memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, kepada mereka akan Kuberikan dalam rumahKu dan di lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku.” Ayat ini secara signifikan menerima orang-orang kebiri.

Di dalam Kisah Para Rasul 8:26-39, ada cerita mengenai eunuch yang merupakan pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, dan sedang dalam perjalanannya menuju Yerusalem untuk beribadah.

Ketika dalam perjalanan pulang, ia duduk di kereta sambil membaca kitab Nabi Yesaya. Filipus mendekat dan bertanya kepadanya, “Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?” Eunuch itu menjawab, “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?”

Lalu, segera setelah mereka turun dari kereta, Filipus membaptis eunuch itu. Ia meneruskan perjalanan dengan sukacita. Dibaptis artinya terhisap di dalam komunitas. Sekarang, mereka tidak lagi asing, tetapi bagian dari keluarga Allah.

Meskipun ada ruang perdebatan begitu besar menyoal narasi biblis seputar kompleksitas gender, saya pribadi memandang ekspresi dan orientasi seksual sebagai bagian dari kebebasan personal setiap individu dan menghormati teman-teman transgender seutuhnya sebagai manusia.

Happy International Transgender Day of Visibility!

Komentar anda